Tuesday, April 1, 2025

Guru Tua: Sang Pembangun Pendidikan Islam di Indonesia Timur yang Namanya Abadi di Bandara Palu


Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, yang lebih dikenal sebagai Guru Tua, adalah sosok ulama dan pendidik yang namanya tak pernah pudar dalam sejarah Islam Indonesia. Tidak hanya dihormati karena kedalaman ilmu agamanya, beliau juga dikenang sebagai pendiri Alkhairaat, salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia Timur. Kontribusinya yang luar biasa dalam dunia pendidikan membuat namanya diabadikan sebagai Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri di Palu, Sulawesi Tengah, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.  


Lahir pada 13 Maret 1892 di Tarim, Hadramaut, Yaman, Sayyid Idrus berasal dari keluarga terhormat dalam dunia Islam. Ayahnya, Habib Salim bin Alwi Al-Jufri, adalah seorang mufti dan qadhi (hakim) yang disegani di Hadramaut. Didikan agama yang kuat sejak kecil membentuk karakter dan keilmuannya, mempersiapkannya untuk menjadi seorang ulama besar di masa depan.  

Pada tahun 1925, bersama keluarganya, beliau melakukan perjalanan ke Indonesia. Setelah singgah di beberapa kota seperti Pekalongan dan Jombang, akhirnya beliau menetap di Solo pada 1928. Namun, panggilan dakwah membawanya hijrah ke Sulawesi pada 1929, di mana ia memulai perjuangan besar dalam menyebarkan ilmu agama dan membangun pendidikan Islam di wilayah Indonesia Timur.  


Pada 30 Juni 1930, di Kota Palu, Guru Tua mendirikan Madrasah Alkhairaat, yang menjadi cikal bakal jaringan pendidikan Islam terbesar di wilayah tersebut. Tidak hanya fokus pada ilmu agama, Alkhairaat juga mengajarkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, menciptakan generasi muslim yang berwawasan luas.  

Dalam waktu singkat, Alkhairaat berkembang pesat. Kini, lembaga ini memiliki:  
- Lebih dari 1.500 sekolah dan madrasah  
- 34 pondok pesantren  
- Universitas Islam Alkhairaat (didirikan 1964)  

Pencapaian ini menjadikan Alkhairaat sebagai pusat pendidikan Islam terkemuka di Indonesia Timur, melahirkan ribuan alumni yang berkontribusi bagi bangsa.  


Atas jasa-jasanya yang luar biasa, nama Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri diabadikan sebagai Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri di Palu pada 28 Februari 2014. Bandara ini bukan sekadar simbol transportasi, melainkan penghormatan abadi bagi seorang ulama yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah.  

Guru Tua wafat pada 22 Desember 1969, namun warisannya tetap hidup. Alkhairaat terus berkembang, mencetak generasi penerus yang berilmu dan berakhlak mulia. Setiap kali kita melangkah ke Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, kita diingatkan akan perjuangan seorang Guru Tua—seorang ulama, pendidik, dan pahlawan yang meletakkan fondasi kokoh bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia Timur.  

Guru Tua bukan hanya tokoh agama, tetapi juga pemersatu dan pejuang pendidikan. Melalui Alkhairaat, beliau membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam dapat berjalan harmonis dengan budaya lokal. Pengabdiannya yang tulus telah menginspirasi banyak generasi, menjadikannya sosok yang abadi dalam sejarah Indonesia.  

"Guru Tua telah meninggalkan warisan yang tak ternilai, dan namanya akan terus dikenang sebagai sang pembawa cahaya ilmu dan perdamaian."

Semoga kisah perjuangan Guru Tua ini menginspirasi kita semua untuk terus berkontribusi bagi kemajuan pendidikan dan persatuan bangsa.  

Sumber Referensi:
1. Yayasan Alkhairaat. (2023). Sejarah Singkat Alkhairaat  
3. Kementerian Perhubungan RI. (2014). *Peresmian Nama Bandara Mutiara SIS Al-Jufri   

(Catatan: Beberapa link mungkin memerlukan pembaruan atau verifikasi ulang untuk memastikan keaktifannya.)

0 komentar: