Menilik Implementasi MPLS 2026 Berbasis Standar Proses Baru: Mewujudkan Sekolah Ramah Anak
![]() |
| Implementasi MPLS 2026 Berbasis Standar Proses Baru: |
Memasuki tahun ajaran baru di semester ganjil bulan Juli 2026, suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di berbagai penjuru tanah air tampak berbeda. Tidak ada lagi ketegangan atau aktivitas perpeloncoan yang mewarnai hari pertama sekolah. Sebaliknya, MPLS tahun ini dirancang secara matang agar menjadi momentum yang jauh lebih bermakna, suportif, dan ramah anak demi menjamin transisi belajar yang menyenangkan.
Perubahan positif ini merupakan dampak langsung dari disahkannya Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses. Regulasi terbaru ini menekankan transformasi besar pada peran pendidik di kelas. Guru kini dituntut untuk mampu menyeimbangkan empat pilar utama tumbuh kembang anak secara utuh, yaitu proses olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga siswa sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah.
Pemerintah melalui kementerian terkait menegaskan bahwa format MPLS 2026 wajib mengutamakan terciptanya rasa aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik baru. Sekolah diarahkan untuk menyusun program kreatif yang bebas dari unsur kekerasan fisik maupun psikologis. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa ekosistem sekolah siap menjadi rumah kedua yang adaptif bagi perkembangan mental anak.
Menurut laporan dari Kompas.com, Kementerian Pendidikan terus mengawal agar seluruh satuan pendidikan dapat mengintegrasikan gerakan transisi belajar yang inklusif selama pekan pertama sekolah. Upaya ini bertujuan agar siswa tidak merasa tertekan saat menghadapi lingkungan serta ritme belajar yang baru (Kompas, 2026).
Penerapan Standar Proses yang baru meminta guru tidak hanya fokus pada aspek akademik atau olah pikir semata. Aspek emosional (olah hati), estetika (olah rasa), dan kesehatan fisik (olah raga) harus dirajut menjadi satu kesatuan dalam aktivitas pengenalan sekolah. Guru diharapkan menjadi fasilitator yang peka terhadap keunikan latar belakang setiap anak.
Melansir pemberitaan Detik.com, sejumlah pengamat pendidikan menilai bahwa pembenahan standar proses ini adalah jawaban atas tantangan pemulihan karakter pasca-pandemi. Guru diimbau memanfaatkan pekan MPLS untuk membangun kedekatan emosional dan rasa percaya diri siswa, sebelum mereka dihadapkan pada materi pelajaran yang lebih padat (Detik, 2026).
Sebagai guru kelas, pekan MPLS 2026 adalah waktu emas untuk memetakan kesiapan psikologis dan gaya belajar siswa tanpa membuat mereka merasa "diuji". Berikut adalah beberapa tips konkret yang bisa Anda terapkan di kelas dengan cara yang santai dan menyenangkan:
Game "Roda Emosi" Interaktif: Awali hari dengan meminta siswa menempelkan stiker warna pada papan emosi yang menggambarkan perasaan mereka hari itu. Ini membantu guru melakukan olah hati dan olah rasa secara cepat.
Aktivitas Menggambar dan Bercerita Bebas: Berikan selembar kertas dan biarkan siswa menggambar tempat impian atau hobi mereka. Selagi mereka menggambar, guru dapat berkeliling untuk mengobrol santai guna memahami latar belakang emosional anak.
Pemetaan Gaya Belajar lewat Bergerak (Olah Raga): Buat permainan di mana siswa harus berpindah sudut ruangan berdasarkan preferensi mereka. Misalnya, "Siapa yang suka belajar sambil mendengarkan musik, lompat ke sudut kanan!". Langkah ini sangat efektif memetakan modalitas belajar siswa (visual, auditori, atau kinestetik) secara implisit.
Sebagaimana diulas oleh Republika.co.id, asesmen awal yang bersifat non-kognitif dan dilakukan secara humanis terbukti mampu menurunkan kecemasan siswa baru hingga 40 persen, sehingga membuat mereka lebih siap mengikuti kegiatan pembelajaran ke depan (Republika, 2026).
Implementasi MPLS 2026 yang berbasis pada Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 membuktikan bahwa wajah pendidikan kita sedang bergerak ke arah yang lebih humanis. Dengan mengedepankan aspek olah pikir, hati, rasa, dan raga, sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan ruang tumbuh yang dirindukan anak-anak. Melalui strategi asesmen diagnostik non-kognitif yang dikemas lewat permainan santai, guru dapat mengawali tahun ajaran ini dengan langkah yang tepat dan terukur.
Apakah Anda sudah menyiapkan modul MPLS ramah anak untuk esok hari? Jangan lewatkan artikel-artikel mendalam seputar perangkat ajar kurikulum terbaru dan administrasi guru kreatif lainnya hanya di BerandaGuru.com. Mari bersama-sama kita wujudkan ekosistem pendidikan yang memanusiakan manusia. Tetap update informasi Anda di sini!
Daftar Pustaka
Detik. (2026). Menakar Implementasi Permendikdasmen Standar Proses Baru di Sekolah. Diakses dari
Kompas. (2026). MPLS 2026: Kemendikbud Tegaskan Pentingnya Transisi Belajar Ramah Anak. Diakses dari
Republika. (2026). Pentingnya Asesmen Diagnostik Non-Kognitif Menjelang Tahun Ajaran Baru. Diakses dari






